Saat kita harus jauh…

Dalam keluarga terkadang kita dihadapkan pada kondisi sulit untuk memilih, soal lokasi pekerjaan misalnya. Seperti yang keluarga kami alami. Tulang punggung keluarga kami yaitu Papa dari Ken, anak saya semata wayang, harus bekerja di luar kota. Tentu saja banyak yang sudah menyarankan suami untuk pindah kerja atau saya dan anak pindah mengikuti suami. Tidak sedikit pula yang memberikan nasihat berbau ancaman, “keluarga itu harus jadi satu.. kalau jauhan nanti suami bisa begini begitu; nanti anakmu bisa begini begitu; nanti kamu begini begitu”. Namun tentu membuat keputusan buat kami tidak semudah mengikuti kata orang. Dalam perjalanan karir suami dan bisnis yang kami geluti yang membuat kami harus terpisah, tidak hanya terkandung masa depan anak kami. Tetapi di situ juga ada passion, cita cita, nasib orang lain, dan tujuan jangka panjang dan luas lainnya. Intinya kami tidak hidup untuk diri kami sendiri, ada banyak hal tersangkut dalam hal yang kami lakukan tiap hari. Apakah anak lalu menjadi tidak penting? Tentu penting. Apakah keutuhan keluarga di nomor sekiankan? Tentu tidak. Apakah pekerjaan dan bisnis lalu menjadi nomor satu di atas segalanya? Tidak bisa dibilang begitu juga. Apa tidak pernah merasa galau? Tentu pernah.

Pernah suatu saat, anak saya (8 tahun 11 bulan) berkeliling kompleks rumah dengan sepeda motor dibonceng papanya. Lalu mereka pun mengobrol.

Papa : Ken, pengen gak sih ditemenin papi setiap hari?

Ken : ya pengin.. Kalau kita ketemu setiap hari, kita bisa ngobrol “some private things”

P : sekarang pun bisa dong

K : yaa.. gak enak, rasanya kayak gak biasa gitu lho.. kalau cerita sama mami kan lebih terbiasa karena ketemu setiap hari.

P : ūüė¶

Di situlah si papa galau. Katanya, “aku kok sedih dia bilang gitu. I’m afraid to miss the moments”. oooohh….

Meski waktu bersama kami tergolong singkat dibandingkan dengan waktu ketidakbersamaan kami, namun kami; saya, suami dan anak, selalu menggunakan waktu bersama tersebut untuk banyak berbincang dan ngobrol tentang apaaaaa saja.

Pernah suatu ketika ada rencana dari kantor si papa untuk memintanya sekolah lagi, yang tentunya akan menyebabkan waktu bertemu yang sudah singkat terpotong lagi untuk sekian waktu lamanya. Ketika didiskusikan dengan Ken, dia tidak bisa menerima, “it’s not fair. Aku mau sama papi, untuk apa papi sekolah lagi. Not fair!!”. Dan diapun marah, merasa papanya gak sayang sama dia dan lebih mementingkan pekerjaannya. Setelah marahnya reda, saya ajak dia ngobrol sambil makan malam. Saya bercerita “Kita ini keluarga lho Ken. Keluarga itu saling support. Kita masing masing punya cita cita. Papi punya cita cita, mami punya cita cita, Ken juga punya cita cita. Cita cita siapa yang paling penting hayoo? Cita cita semua. Semua penting, we are equal. Saat ini mungkin giliran papi. Kita dukung papi kejar cita citanya. Nanti suatu saat pasti tiba giliran Ken, dan papi mami pasti akan dukung, akan support. Papi mami akan berusaha supaya Ken juga bisa kejar cita cita seperti Papi. We promise you that”. Dan berikutnya ketika dia ketemu papinya, dia bilang, “Good luck for your school, papi”. ooohhhh…

Menurut saya, dalam keluarga kita tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk menciptakan tampilan “keluarga ideal”. Menurut saya keluarga ideal adalah keluarga yang berkomunikasi. Masing masing anggota keluarga merasa setara, masing masing merasa mendapat dukungan, masing masing memahami cita cita dan keinginan pribadi, dan seperti kata Lilo and Stitch –¬†karakter Disney yang imut itu –¬† “a family means nobody is left behind”.

Dan buat saya pribadi, anak saya belajar banyak dengan kondisi seperti ini. Dia belajar menghargai waktu bersama, dia belajar arti rindu, dia belajar arti tanggung jawab, dan dia belajar arti keluarga itu sendiri.

Jadi, menurut saya lagi, buat yang terpaksa harus berjauhan, tidak perlu kita merasa bersalah. Our family is always in our heart. Ganbatte !!

 

 

 

Iklan

Gadget Mindset

article 1 9.10.17

Lahirnya para digital natives (anak anak yang sangat familiar dengan gadget sejak lahir) menimbulkan berbagai kekawatiran tidak hanya di kalangan orang tua dan pendidik, namun masyarakat pada umumnya. Banyaknya anak yang lemah secara motorik, terlambat bicara atau mengalami berbagai masalah kesehatan mata ditengarai karena terlalu banyak mengkonsumsi “gadget”. Belum lagi banyak masalah lainnya yang ditimbulkan dari gadget yang berkaitan dengan sosial media seperti cyber crime, cyber bullying, dan gadget addicts (kecanduan gadget). Pun hubungan keluarga yang semakin renggang karena anggota keluarga lebih banyak berkomunikasi dengan gadget masing masing daripada dengan sesama anggota keluarga sendiri.

Berkaitan dengan hal tsb, sebagian besar psikolog, konsultan pendidikan dan kesehatan menyarankan para orang tua untuk membatasi pemakaian gadget pada anak. Ada yang bilang untuk mengijinkan anak bermain gadget cukup selama 30 menit sampai 1-2 jam sehari, ada juga yang bilang sebaiknya hanya diberikan pada akhir minggu agar tidak mengganggu jam belajar sekolah dan diberikan sebagai reward. Mereka juga menyebarkan campaign “no gadget time” di keluarga dari jam 18 – 21 untuk memberikan waktu berkomunikasi yang intens dalam keluarga. Pakar teknologi juga turut memberikan tipsnya perihal parental lock dan aplikasi penyaring untuk keamanan anak di dunia maya. Ada pula beberapa pakar yang memberikan saran yang terhitung ‘radikal’ di era digital ini, yaitu, untuk tidak memperkenalkan gadget sama sekali pada anak sampai usia tertentu atau tidak mengijinkan anak memegang gadget sendiri sampai usia 13 tahun.

Sejujurnya saya cukup ragu dengan saran saran di atas. Bukan meragukan keefektifan saran saran tsb, namun pada sejauh mana kita akan tahan terhadap berbagai peraturan yang sebenarnya bukan ditujukan ke anak, tetapi lebih kepada kita sendiri sebagai orang tua. Di sisi lain, saat ini kita hidup di¬†dunia ‘gadget’ dimana hampir semua aktifitas harian kita dikendalikan dari gadget : dari pesan ojek, taxi, pesan makan, beli obat, tanya dokter, belanja, cari jalan tikus, kirim barang, aktifitas perbankan, sampai cari uang. Bahkan saat ini, media media cetak pun sudah mulai beralih ke digital, sehingga kegiatan kita bersantai membaca buku, koran/ majalah sambil ‘ngopi’ juga sudah digantikan si “gadget”. Mau tidak mau, kita tentu dituntut untuk fasih dalam penggunaan gadget, agar tidak terasing di dunia kita sendiri.

Namun seperti kita tahu, anak adalah peniru ulung dari orang tua. Tidak terkecuali dalam hal penggunaan gadget. Akan sangat sulit tentunya melarang anak bersentuhan dengan gadget, sementara kita sendiri sebagai orang tua selalu terhubung dengan gadget berkenaan dengan banyaknya aktifitas harian yang membutuhkan gadget. Karena itu, menurut saya, hal pertama yang harus berubah adalah Mindset orang tua tentang penggunaan gadget. Gadget di dunia digital adalah sesuatu yang tidak terhindarkan, tetapi selalu ada hal dapat di”manage” yaitu MIndset (pola pikir). Sebuah alat apapun itu, akan tergantung dari pengguna, apakah akan menjadi alat yang berbahaya atau berguna. Bila mindset orang tua menggunakan gadget hanya untuk ‚Äėbermain‚Äô.. chatting, sosmed, cari berita berita gossip dan berita berita provokatif (bila tidak mau disebut hoax); maka anakpun akan menggunakannya dengan cara yang sama. Mereka hanya akan tahu bahwa gadget itu game. Mereka hanya akan melihat gadget sebagai mainan dan membuat mereka ‚Äėsedikit‚Äô lebih tahu tentang satu hal dibanding orang lain, yang belum tentu juga kebenarannya. Sebaliknya, bila orang tua menggunakan gadget sebagai ‚Äėtools‚Äô untuk belajar, untuk mencipta, untuk menelaah dan menganalisa berita, maka anakpun akan berbuat hal yang sama. Pada awalnya, sebagaimana sesuatu yang baru di tangan anak, orang tua tentu akan perlu melakukan pengawasan dan pendampingan ketika anak menggunakan gadget. Namun, dengan pola pikir yang ditanamkan dengan benar dan terus menerus, maka penggunaan gadget dengan bijak akan lebih bermanfaat, dibandingkan dengan berbagai pembatasan waktu, usia dan seterusnya.

Anak saya, 8 tahun, menggunakan gadget untuk mempelajari berbagai aplikasi pembuatan film (movie maker) dan belajar dari berbagai link perihal robot sesuai ketertarikannya. Cukup banyak waktu yang dihabiskan dengan gadgetnya untuk mengeksplorasi sesuatu. Anak lain, 9 tahun, mempelajari berbagai macam teknik doodle dari internet, dan karya karya yang ditunjukkannya sangat mengagumkan. Anak lain, 9 tahun juga, bereksperimen dengan berbagai macam bahan untuk membuat slime dari youtube yang kemudian dijualnya ke teman teman sekolahnya. Ada lagi yang belajar membuat penganan sederhana, membuat sesuatu dari botol bekas, membuat clay, menghias kamar tidur, sampai yang belajar matematika dan membuat blog. Belum termasuk bila membicarakan dua remaja Bali yang menggunakan sosial media untuk berkampanye perihal “clean beach” yang akhirnya membawa mereka pidato di PBB.

Saya yakin, semua berawal dari “mindset” yang benar. Yang perlu kita lakukan adalah mengubah “mindset” kita sebagai orang tua mengenai penggunaan gadget lalu tanamkan “mindset” tsb pada anak kita. Bukan tidak mungkin, hasilnya justru akan mengejutkan. Sudah saatnya kita mengajarkan anak anak digital natives untuk menjadi berdaya di dunianya, bukan melulu menjadi korban.

‚ÄúChildren are great imitators, so give something great to imitate‚ÄĚ.

Have a joyful day, parents!

Olah Raga Untuk Anakku…

Waktu kecil, Kenan adalah anak yang menurutku, rapuh secara fisik. Sering sekali dia sakit. Setidaknya sekali dalam sebulan kami harus antarkan dia ke rumah sakit, karena sakit ini dan itu.
Alhasil dia punya banyak dokter langganan, baik itu dokter anak, dokter THT, dokter mata, juga dokter kulit.
Pernah suatu kali dia opname di rumah sakit selama seminggu, lalu setelah pulang dokter memberinya obat untuk diteruskan di rumah. Dan belum lagi obatnya habis, dia sudah sakit yang lain lagi. Sedih rasanya…
Semasa sekolah TK nilai tertinggi di rapornya adalah jumlah hari sakit, bahkan nilainya bisa sampai lebih dari 10… hehehehe..

Menurut dokter, dia tergolong anak alergi. Manifestasi alerginya bervariasi mulai dari problem di kulit, mata, telinga, tenggorokan… plus pencernaan juga sensitif. Tapi kata dokter juga, percuma juga di test alergi, karena jumlah alergen di alam ini terlalu banyak, jadi ibunya sendiri yang harus mengamati dengan teliti, apa apa yang membuat dia sakit. Tentu dia juga ikut sedih, karena aku banyak melarang, ini gak boleh itu gak boleh… yahh.. gimana lagi..
Dokter hanya menasihati agar daya tahan tubuhnya diperkuat dan sebaiknya tidak terlalu banyak mengkonsumsi vitamin namun lebih memperbanyak aktifitas fisik (olah raga) setidaknya lima jam seminggu.

Mendengar nasihat dokter, beberapa kerabatku menyarankan untuk mengikutkan Kenan berenang. Jadilah Kenan les berenang sejak usia 4 tahun. Hanya saja ternyata dia gak suka dengan air. Meski sudah sedikit aku bujuk dan paksa (ehmm..), namun hasil pada kesehatannya tidak terlalu berpengaruh. Tetap aja dia sakit sakitan..
Kemudian baru memasuki usia 6 tahun, Kenan minta ikut latihan taekwondo. Tempat lesnya cukup jauh dari rumah dan waktu latihan malam hari selama dua jam dua kali seminggu, tapi toh demi anak, aku tetap jalani mengantar dan menunggui dia latihan sepulang aku kerja.
Dari olah raga ini, aku baru tahu bahwa olah raga untuk anak sebagai terapi penyembuhan ternyata berbeda beda sesuai karakter fisiknya. Untuk Kenan sendiri, ternyata dia memang tidak kuat dengan olah raga air. Dia mudah kedinginan, dan sama sekali gak nyaman berlama lama di air. Selanjutnya aku juga baca mengenai kisah ibu yang cerita anaknya diangkat menjadi sebuah film “Wonderful Life”, dimana anaknya yang dyslexia juga menjalani olah raga hiking sebagai salah satu terapi penyembuhan. Dari pengalaman, membaca dan sharing beberapa ortu, aku mempelajari bahwa olah raga untuk anak memang banyak sekali manfaatnya. Tidak hanya daya tahan tubuh meningkat, tetapi juga anak latihan sportif, disiplin dan ternyata juga fokus. Tambahan lagi, olah raga yang dipilih pun ternyata juga harus sesuai dengan karakter fisik dan masalah yang dihadapi, dan yang lebih penting adalah olah raga yang dipilih harus disukai oleh anak ybs, karena rasa bahagia dan semangat, bagaimanapun, adalah obat yang paling manjur.
Puji Tuhan, aku bersyukur bahwa sejak Kenan rajin berlatih selama 2 tahun ini, dia jarang sekali mengunjungi rumah sakit untuk berobat. Kalaupun sakit, penyembuhan juga relatif lebih cepat daripada dulu. Semoga dia bisa selalu tumbuh sehat sehingga bisa menggapai mimpi mimpinya dengan happy…

Catatanku di Hari Ibu

Kemarin dia bilang, “masakan mami kurang pedes.. jadi gak enak”.

Hari ini dia bilang, “masakan mami kepedesan.. aku gak suka”.

Lain waktu dia bilang, “aku maunya yang kuah-kuah gitu lho”

dan kemudian “bukan kuah begini yang aku mau”.

Akhirnya dia bilang “masakan mbah lebih enak ya dari masakan mami”.

Begitulah intinya.. meski sudah 7 tahun aku belajar masak dan mengumpulkan beratus ratus resep, mencoba ini itu dan segala hal yang tidak pernah kulakukan sebelum dia lahir yang sekarang kulakukan khusus untuknya, namun sepertinya memang tidak pernah bisa sempurna. Kadang disitu aku merasa…… patah hati.

Kemudian datang si mbak hari ini, matanya sembab, aku bertanya kenapa. Diapun bercerita, baru saja dia bertengkar dengan anaknya yang berumur 20 tahun lebih sedikit, dan si anak mengatakan padanya (intinya), “Dulu toh waktu aku kecil sampai remaja, Ibu gak pernah urusin aku, pas aku butuh Ibu, Ibu gak ada.. ” Padahal si Ibu, yang ditinggal suaminya ketika si anak masih bayi, pergi ke Arab dan menjadi TKW disana. Dia bercerita dengan nada terisak padaku, “lha aku jadi TKW itu untuk apa nyah, kalau bukan untuk biayain anakku.. dia kan harus sekolah, sekolah tinggi.. darimana aku dapat uang kalau aku gak pergi kerja.. mana ada Ibu yang tegel (tega) tho nitipin anaknya ke orang lain..”. Dan akupun ikut terisak…

Aku jadi teringat sebuah “broadcast message” yang isinya kurang lebih begini,

Ketika kita kecil, kita merasa Ibu adalah segalanya..

Ketika kita mulai masuk sekolah dasar, kita merasa Ibu adalah hakim yang selalu siap menghukum dan memberi tugas, tidak asyik

Ketika kita mulai remaja, kadang kadang Ibu membuat kita malu di depan teman teman

Ketika kita sudah lulus SMA, kita sering menjauh dari Ibu dan tidak sabar untuk mendengarnya lama lama

Ketika kita lulus kuliah dan mulai bekerja jauh dari rumah, kita mulai kangen masakan Ibu

Ketika kita mulai membangun keluarga baru, kita mulai sering telpon Ibu

Ketika kita menghadapi banyak masalah rumah tangga, kita mulai berpikir “Ibu benar, aku sayang Ibu”.

Pada akhirnya anak akan kembali dan mengakui bahwa Ibu adalah segalanya, mereka akan berterimakasih pada Ibu.

Tapi selama menunggu “turning point” itu, Ibu¬†akan menahan segala patah hati, air mata, merasa tidak dihargai, frustasi, merasa gagal, dan ingin menyerah. Tidak hanya satu, dua atau tiga tahun, tapi kadang butuh waktu bertahun tahun menunggu.

Setelah jadi Ibu, saya baru menyadari bahwa Hari Ibu memang begitu berharga.. cukup satu hari saja setiap tahun, kita mengapresiasi apa yang sudah Ibu lakukan untuk kita, karena memang bukan hanya sebatas waktu atau tenaga saja yang diberikan Ibu.. tapi seluruh hati dan cintanya.

Selamat hari Ibu buat semua Ibu Ibu di dunia.

 

Never Ending Baby Blues ?

Aku¬†adalah wanita bekerja dan tetap jadi ibu bekerja ketika sudah punya baby. Dulu sewaktu anakku masih bayi, hampir sepanjang hari setiap harinya anakku diasuh oleh seorang pengasuh. ¬†Sampai anakku balita, status ibu bekerja yang dibantu pengasuh dalam mengasuh anak ini terasa begitu membebani. Bagaimana tidak? Banyak orang yang bertanya padaku “kamu gak takut, anakmu nanti jadi anak si mbak?” atau “kamu sudah siap kalau nanti anakmu panggil pengasuhmu mama dan panggil kamu tante?”. Dan ada juga beberapa yang berkomentar agak nyinyir; “dapat¬†anaknya susah kok akhirnya ditinggalin ama orang lain?” atau “kalau aku sih, anak ya harus aku ‘pegang’ sendiri, masak investasi terbesar kita diserahkan ke orang lain?” huhuhu.. aku hanya bisa menangis dalam hati, belum saja anakku besar, kok aku sudah merasakan luar biasa beratnya jadi ibu… huhuhuhu..

Ketika aku meminta nasihat¬†ke suamiku soal berhenti bekerja, suamiku hanya bilang “kamu yakin, kalau mau berhenti bekerja? soal omongan orang tidak usah dipikirkan, masalah anak tidak hanya di tahap ini saja, perjalanan masih panjang.. dan kamu, pekerjaan itu passionmu, mengapa hadirnya¬†anak malah jadi beban? bukankah harusnya kehidupan kita jadi lebih seimbang dengan adanya anak?” lagi lagi aku hanya bisa huhuhuhu… Bersyukur aku punya suami yang super duper sabarrr…

Begitulah setiap hari, aku bekerja pagi setelah menyiapkan kebutuhan harian si kecil dan pulang petang ketika urusannya sudah beres, dan aku tinggal menidurkannya. Kalaupun dia bangun tengah malam untuk pipis atau minum susu, aku yang akan mengurusnya. Aku yakin setiap orang punya pilihan sendiri sendiri dan akupun tidak¬†akan menelantarkan anakku dengan statusku sebagai ibu bekerja, begitu setidaknya yang selalu kucoba tanamkan di pikiranku melawan paradigma yang beredar di sekelilingku. Sampai suatu ketika, anakku yang waktu itu masih balita, mengalami tantrum yang luar biasa. Dia menangis menjerit jerit¬†dan marah marah tanpa jelas penyebabnya. Saat itu aku coba peluk dia, tapi dia meronta ronta, malah kemudian dia minta si mbak. “Mak Yah!! Mak Yah!! ” (demikian dia memanggil pengasuhnya..). Mendengar teriakannya, entah kenapa, membuatku dirasuki perasaan cemburu yang memuncak, Hey kamu anakku !! begitu jerit batinku. Begitu marahnya aku, sampai kurebut anakku dari pelukan Mak Yah nya, dan kusuruh si mbak pulang. Bukannya mereda, anakku malah semakin menjerit jerit di depanku. Sengaja aku bawa dia ke kamar dan kukunci pintunya, berusaha membuatnya tidak punya pilihan selain aku. Setelah beberapa menit, tangisannya tidak mereda, dan dia terus menjerit memanggil manggil Mak Yah. Akhirnya aku menyerah kalah, kutelpon si mbak, memintanya kembali karena aku tidak bisa menenangkan anakku. Mak Yah kembali dengan berlinang air mata, mendekap anakku yang langsung terisak isak di pelukannya dan akupun menangis tersedu sedu, merasa hancur berkeping keping.

Seperti biasa, akupun segera curhat ke suamiku setelah semuanya mereda. Dan seperti biasa pula, dengan nadanya yang tenang aku memang seperti anak kecil yang merajuk minta permen di depannya.. “Kendalikan dirimu, mam. Bersyukur kita kalau si mbak itu sayang sama anak kita. Anak kita bisa dekat dengannya. Bukannya banyak pengasuh di luar sana yang jahat sama momongannya? Bukannya kamu malah bisa tenang meninggalkan anak kita pada orang yang tepat? Ingat ya.. proses membesarkan anak itu tidak hanya saat ini, tapi masih sangattt panjang. Aku pengen kamu bahagia, dan aku tahu kamu bahagia dengan pekerjaanmu. Aku yakin kalau ibu yang bahagia juga akan membesarkan anak yang bahagia. Cinta ibu itu yang harus dipegang. Dan itu bentuknya macam macam, tidak harus dalam bentuk¬†kehadiran kamu 24 jam bersamanya. Kamu ajarkan dia berdoa, kamu bacakan cerita setiap malam, kamu cium dia setiap bertemu, kamu bangun tengah malam untuknya, kamu siapkan makannya.. aku tahu itu juga cinta, dan itu yang paling penting”. Lalu dia menyenandungkan lagu, persis seperti ibu yang bersenandung untuk anaknya… “Kasih ibu kepada beta, tak terkira sepanjang masa.. slalu memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia… ” dan akupun… berlinang air mata… lagi. Hiks.

Memang benar kata suamiku. Ketika anakku sudah tidak balita lagi, dia mulai mengerti banyak hal, belajar banyak hal, dan punya banyak kesibukan. Dia tahu pekerjaan mami dan papinya, dia banyak tanya dan cerita, dia mulai punya persoalan dengan teman dan sekolahnya dan tentunya semuanya itu membuat dia jadi lebih dekat dengan aku dan suami daripada dengan si mbak. Karena memang kebutuhannya sudah bukan kebutuhan dasar lagi, tapi sudah lebih jauh dari itu…

Sampai kemudian ada hal baru lagi… dan seperti yang sudah sudah, kembali aku mengadu ke suami.. “liat tuh anak kita, diajak pergi nemenin maminya udah gak mau, milih main di rumah temen..uuuhh..”. Dan suamipun hanya tertawa… “mungkin nanti kalau anak kita mau sekolah ke luar negeri atau bahkan mau menikah, sepertinya maminya yang bakal tantrum berkepanjangan nih dan aku mesti¬†siap siap ya…” huhuhuhu… aku iniiii… bener bener ibu yang punya never ending baby blues sepertinya… huhuhuhu..

Minat Anak vs Sosmed

Di era sosial media (sosmed) ini, beberapa¬†hal dari hidup kita sedikit banyak dipengaruhi oleh postingan sosmed, entah itu pilihan, pendapat maupun keputusan yang kita buat. Tanpa kita sadari kita sering seolah “didikte” oleh apa yang sedang happening di sosmed. Termasuk, menurut saya, soal anak. Banyak hal yang kita berikan ke anak sering merupakan hasil sosmed. Misalnya, kegiatan yang diberikan ke anak, toys and games, fashion, cake ulang tahun, ¬†juga tontonan TV atau film. Sehingga saya amati postingan ibu ibu soal kegiatan anak anaknya antara satu dengan yang lainnya sepertinya mirip mirip begitu…hehehe.. ¬†mungkin karena dari sumber yang sama?¬†mungkinn yaaa…

Saya sendiri mengaku sebagai ibu satu anak, tadinya juga sering terpengaruh oleh postingan teman teman. Melihat laman sosmed¬†dipenuhi dengan postingan beberapa teman yang anaknya bermain piano dengan fasihnya, ada keinginan untuk mengikutsertakan anak ke les piano juga. Apalagi ditunjang oleh¬†artikel artikel pendamping, bahwa anak yang dilatih memainkan piano sejak kecil kecerdasannya akan meningkat pesat. Demikian juga dengan postingan soal olah raga bela diri, keren banget ya anak anak itu, wah kalau besar nanti bisa jadi penerus¬†Bruce Lee atau Joe Taslim nih. Belum lagi anak anak yang memenangkan olimpiade matematika, woww hebat bener, membawa nama Indonesia mengharumkan dunia. Tapi kemudian dalam hati saya bertanya tanya, mengapa kok jarang (nyaris gak ada) yang posting kegiatan anaknya belajar menyinden atau mendalang atau memasak atau membuat layang layang atau bahkan menulis blog? Apa mungkin memang komunitas saya yang seragam ? Atau kegiatan kegiatan tsb kurang keren? Atau sedang ada persaingan terselubung antar ibu ibu? (hahaha…bisa bisa saya aja iniii). ¬†Padahal kita sering memprotes kurikulum yang seolah menyeragamkan anak kita ya tapi kok pilihan kegiatan anak anak malah seolah semakin seragam?

Sejauh anak anak suka dengan kegiatan kegiatan tsb, menurut saya sah sah saja sih. Anak suka main musik, lalu berprestasi, itu sungguh membanggakan. Senang matematika, dan memenangkan olimpiade matematika, wow saya juga turut bangga meski bukan mamanya atau bahkan kerabatnya. Namun, sayangnya saya sering menyaksikan beberapa anak yang “dipaksa” mengikuti berbagai kegiatan tsb. “Biar cerdas tho bu, biar nanti bisa ikut main film Fast and Furious tho mbak.. ” begitu ujar mereka. Ada juga yang berterus terang, “biar kekinian..”. Oke. Tapi pada kenyataannya, anak anak kecil menangis meraung raung di tempat les, anak yang sudah agak besar lebih suka marah marah bahkan ada pula yang berani berbuat tidak sopan terhadap gurunya, dan anak yang terlalu lelah memilih tidur di tempat les. Bahkan saya pernah melihat seorang anak yang belum genap 4 tahun, sudah diikutkan klub bela diri. Sebenarnya pelatih sudah menolak, tapi agaknya ayahnya agak sedikit “memaksa”: supaya nanti gak di-bully di sekolah, katanya. (meski dalam hati saya bertanya, apa anak playgroup sudah saling bully¬†ya?). Akhirnya, okelah.. si anak diijinkan “trial”. Saya akui si anak memang terlihat sangat keren, kecil kecil sudah memakai seragam bela diri yang ortunya tentu sudah pesankan khusus sesuai ukuran si anak. Kemudian sebelum kelas dimulai, sang ayah memotret anak dalam berbagai gaya dalam balutan seragam bela dirinya. Pasti update status nih habis ini (lagi lagi ini batin saya saja loh..hahaha). Namun kehebohan dimulai di tengah latihan, saat¬†pelatih memberi contoh cara memukul target dengan keras yang tentu juga menghasilkan suara “gubrakkk” yang sangat keras. Si anak tampak sangat terperanjat¬†dan langsung menangis kencang kencang sampai terkencing kencing. Jadilah kegiatan bela diri diselingi dengan kegiatan menenangkan si kecil dan mencari lap untuk membersihkan ompolnya. Waduhh…

Sebelum era sosmed dimulai, memang sepertinya ibu ibu (tapi rasanya tidak hanya ibu ibu deh) suka mengikuti apa yang sedang trend. Kalau dulu lewat media arisan, sekarang lewat WA group. Kalau dulu lewat pertemuan RT, sekarang lewat Facebook. Tapi menurut saya sekarang lebih intens, karena bisa setiap hari kita dijejali bermacam macam teori yang kadang kadang tidak jelas sumbernya, tapi yang jelas mendukung aktifitas aktifitas yang kita incar. Kemudian foto dan video anak anak yang berhasil dalam berbagai aktifitas tsb, yang bikin kita sering makin kebat kebit.. gimana nih anak kita, bisa gak nih, masa anak lain bisa anakku gak bisa… hiks.

Bagaimanapun sebenarnya, anak anak memiliki minatnya sendiri sendiri. Untuk anak saya sendiri saya memilih untuk mencoba mengeksplorasi minat si anak dan membiarkan dia sendiri memilih apa yang ingin dipelajari. Kalaupun dia tertarik pada musik misalnya, saya lebih suka mengenalkan padanya berbagai alat musik terlebih dahulu, dan membiarkan dia memutuskan apa yang dia suka. Tentu saya juga tidak terburu buru memasukkan dia di tempat les bila kebetulan dia suka, tapi saya menunggu dan menyakinkan diri bahwa dia memang benar benar berminat pada bidang tsb. Buat saya tidak masalah bila si anak dianggap terlambat mempelajari sesuatu, tapi saya yakin bila minat itu memang benar benar berasal dari diri si anak, maka proses belajar itu akan berlangsung sepanjang hidupnya.. daripada saya terburu buru, kemudian dia berhenti di tengah jalan, malah nanti dia tidak akan belajar apa apa.

Ada ibu yang bertanya pada saya, kalau anak saya¬†gak minat apa apa bagaimana? Minatnya cuman mainnn aja, sepedaan sama teman temannya kesana kemari, gak mau disuru belajar apa apa, apa nanti gak ketinggalan dibanding teman temannya? Menurut saya, bersosialisasi pun itu suatu ketrampilan dan itu juga minat loh. Ada juga ibu yang marah marah karena anaknya tidak mau ikut les apapun dan memilih menggambar sendiri di kamar. “Nanti kamu tidak bisa apa apa, tau gak? Lalu kamu mau berteman dengan siapa? Hantu?” begitu kira kira teriak si ibu tadi.

Pengalaman saya terlibat¬†dengan pendidikan anak selama hampir 17 tahun ini, membuat saya menyadari, tidak ada anak yang tidak memiliki minat. Mungkin sebagian memiliki banyak minat, dan sebagian lagi hanya tertarik pada satu bidang saja. Mungkin sebagian begitu mudah terlihat minatnya, tapi sebagian lainnya butuh digali lebih dalam. Jadi menurut saya, parents tidak perlu putus asa dan juga jangan mudah tergiur¬†postingan di sosmed. Anakku, anakku – anakmu¬†ya anakmu¬†dan mereka berbeda, minat dan caranya juga berbeda beda. Kata dokter anak langganan saya, “apa yang bagus untuk anak lain, belum tentu bagus untuk anakmu lho.. dan kamu harus cari tahu sendiri apa yang bagus untuk anakmu”. Dan pesan itu selalu saya pegang sampai saat ini.

Akhir kata : “Every child is gifted – they just unwrap their packages at different times”

Happy Friday!

Mami, tertawalah bersamaku..

Hari ini aku ditegur anakku yang berumur 7 tahun ..

Mami, kok mami gak pernah ketawa sih?

Aku : masak sih?

Iya, paling cuman senyum senyum.. tapi gak pernah ketawa kayak kalo heppii gitu lho..

Aku : Oh ya?

Mami lebih suka Kenan pas bayi ya? Kan mami banyak ketawa pas Kenan bayi..

Aku : kok Kenan tau?

Kan Kenan liat dari foto-foto..

Sekarang mami gak pernah ketawa kayak gitu sama Kenan..

dan akupun terdiam.. ada perasaan bersalah di dalam sini..

Benarkah aku sudah lupa aku untuk tertawa bersama anakku? Lalu seolah satu demi satu moment itu berkeliaran di dalam kepalaku..

Sungguh aku ingat betul¬†ketika dia masih¬†bayi, sepertinya aku memang sering tertawa.. tertawa geli melihat tawanya yang terkekeh kekeh, tertawa terkekeh mendengar bahasa bayinya atau ketika dia berjoget joget mengikuti lagu atau melihat ekspresinya mencicipi suatu makanan baru, tertawa bahagia ketika dia berhasil berjalan… lucu sekali mengingat masa masa itu..

Semakin dia bertumbuh, aku melihat diriku juga bertumbuh.. tapi mengapa aku lebih tumbuh seperti monster? Pagi pagi aku selalu bangun terburu buru, menyiapkan keperluannya sepanjang hari..lalu mengantar sekolah dan kegiatan les ini itu, kemudian cerewet soal PR dan tanggung jawab .. “bereskan mainan, siapkan buku untuk besok, gosok gigi, tidur cepat karena besok harus bangun pagi” dan lainnya.. disamping aku mengelola usaha¬†dan berceloteh soal menyiapkan masa depannya…

Bahkan saat liburanpun, aku sibuk sendiri.. sibuk menyiapkan segala sesuatunya agar dia¬†menikmati setiap perjalanan yang kami lakukan, sibuk mengantisipasi agar dia tidak sakit selama dan setelah liburan.. sibuk membeli tiket ini itu agar dia¬†mendapatkan setiap manfaat dari liburan kami.. “supaya kamu bisa cerita nanti ya .. ngapain aja selama liburan..”

Sampai aku lupa.. aku lupa bahwa aku perlu untuk mengambil waktu menikmati detik detik bersamanya.. tertawa bersamanya.. bahagia bersamanya..

Seolah sekarang anakku berkata padaku.. tidak perlu semua kesempurnaan itu mami, tertawalah bersamaku dan mari kita nikmati setiap momen bersama..

Terimakasih anakku.. terimakasih sudah mengingatkanku. I love you.